Bursa Efek Indonesia (BEI) membekukan 38 emiten free float menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (3/2). Selain itu, ada berita data atap rumah yang mayoritas pakai genteng. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
BEI Bekukan 38 Emiten Imbas Tak Patuhi Aturan Free Float
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menjatuhkan sanksi suspensi perdagangan saham terhadap 38 perusahaan tercatat. Langkah ini diambil karena emiten-emiten tersebut gagal memenuhi ketentuan kepemilikan saham beredar di publik atau free float, sebagaimana diatur dalam Peraturan Bursa Nomor I-A.
Sebelumnya, BEI telah memberikan Peringatan Tertulis III dan denda sebesar Rp 50 juta kepada emiten-emiten yang tidak mematuhi aturan tersebut. Karena sanksi administratif tersebut tidak dipenuhi, BEI kemudian melanjutkan dengan suspensi perdagangan saham, baik di seluruh pasar maupun di pasar reguler dan tunai, hingga perusahaan mematuhi aturan free float.
Suspensi ini akan terus diberlakukan sampai ke-38 perusahaan tersebut memenuhi kewajiban free float dan telah melewati periode evaluasi selanjutnya. Kebijakan ini menegaskan komitmen BEI dalam menjaga transparansi dan kepatuhan pasar modal, yang berdampak langsung pada likuiditas saham dan kepercayaan investor.
Cek Data: 57,93% Rumah Tangga di Indonesia Sudah Pakai Atap Genteng, 31,48% Seng
Wacana penggunaan genteng berbahan dasar tanah untuk atap rumah, yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, menyoroti kondisi penggunaan material atap di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, mayoritas rumah tangga di Indonesia, tepatnya 57,93% atau 40.913.287 rumah tangga, telah menggunakan genteng sebagai atap rumah mereka. Sementara itu, 31,48% atau 22.232.058 rumah tangga masih mengandalkan seng.
Distribusi penggunaan material atap menunjukkan variasi signifikan. Selain genteng dan seng, atap asbes digunakan oleh 7,85% (5.543.280) rumah tangga, meskipun memiliki risiko kesehatan. Atap beton, yang dikenal kokoh dan tahan lama, hanya digunakan oleh 1,63% (1.148.294) rumah tangga. Sisanya, 0,28% atau 199.055 rumah tangga menggunakan bambu, kayu, atau sirap, dan 0,84% atau 592.978 rumah tangga menggunakan bahan lain seperti jerami.
Secara geografis, penggunaan genteng terkonsentrasi di wilayah Jawa, dengan Yogyakarta mencapai 95,03% dan Jawa Timur 93,58%. Sebaliknya, atap seng mendominasi di Gorontalo (97,3%), Sulawesi Utara (96,23%), dan Sulawesi Barat (95,97%). Data ini mengindikasikan disparitas regional dalam preferensi material bangunan, yang mungkin dipengaruhi oleh faktor ketersediaan, iklim, dan tingkat ekonomi masyarakat setempat.

2 hours ago
1




















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5444813/original/014525700_1765789141-Depositphotos_474740498_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5447234/original/059775500_1765951455-Sharp.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5446741/original/047555000_1765939684-Foto_2B_-_Konferensi_Pers_Safety_Wrap_Up_2025__16_Desember_2025_.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419568/original/058499000_1763701598-WhatsApp_Image_2025-10-23_at_14.58.49.jpeg)



